tanda masa
January 1st, 2009 by robbywahyudigustiketika kafan ditutupkan ke mukamu
ketika itu semuanya mengelabu
ketika tanah ditumpukkan di atasmu
ketika itu tiba-tiba hilang sejarah hidupku
dua kejutan besar setahun lalu
jadi penanda masaku
ketika kafan ditutupkan ke mukamu
ketika itu semuanya mengelabu
ketika tanah ditumpukkan di atasmu
ketika itu tiba-tiba hilang sejarah hidupku
dua kejutan besar setahun lalu
jadi penanda masaku
3 bulan kemudian…
Kosong kian memenuh
Sepi terus meramai.
Butuh jadi terbunuh
Dekap tak juga sampai..
(to u mom, there.. 18/04/1954 - 28/03/2008)
Sebelum
saya dicacimaki, lebih baik saya minta maaf lebih dulu kalau anda berharap
menemukan tulisan semacam resensi ataupun kritik untuk film The Tarix Jabrix
dalam tulisan ini. Saya memang nggak berniat bikin tulisan semacam itu,
sumpah. Tapi kalau anda memang berniat mencari pendapat dari sudut pandang
salah satu penonton film tersebut, then my friend, u may keep continue your reading…
Kenapa
sih film ini jadi sebegitu pentingnya untuk dibahas? Lah, ya
karena menurut saya film ini bagus. Dimana bagusnya? Bukannya niru-niru The
Wild Hogs ya? Nah, ini dia… (bukan judul sebuah rubrik di harian ibu kota
yang bertiras sangat besar, bahkan konon yang terbesar, dengan isi didominasi
oleh iklan-iklan baris dan berita kriminal. Pemiliknya merupakan mantan menteri
di era orde baru dan kabar terakhir sedang mendirikan sebuah partai politik
baru—hmmf, too much irrelevant information)
Oke,
kembali ke The Tarix Jabrix. Kenapa saya suka film ini? Jawabannya
gampang. Pertama, karena saya suka film-film bernuansa komedi. Kedua, menurut
saya film ini mengemban nilai-nilai luhur yang sarat guna bagi remaja Indonesia
yang diharapkan akan memberi perubahan yang baik bagi bangsa ini.
Waduh,
serius amat oom? Lah, djusstru! (bayangkan almarhum Asmuni yang
bicara line barusan)… bayangkan dua kontradiksi itu: sebuah cerita
komedi yang ringan dengan pesan yang sangat-sangat serius alias berat.
Sudah
beres membayangkan?
Sebenarnya
sih, kalau dipikir-pikir dua hal tersebut nggak mesti jadi kontradiksi. Komedi
tidak perlu menjadi seringan kapas sehingga kehilangan bobotnya, dan
pesan-pesan yang serius juga tak perlu disajikan dengan dialog-dialog berat
yang membebani gendang telinga. Banyak bukti konkrit yang memperlihatkan
keberhasilan itu. Naga Bonar Jadi Dua, adalah salah satu yang tersegar.
Keempuan Deddy Mizwar dalam mengolah cerita dan menampilkannya ke layar membuat
saya merasa beruntung sering menonton film-filmnya waktu kecil dulu. Sebutlah Omong
Besar, Naga Bonar, Kejarlah Daku Kau Kutangkap. Semua menampilkan komedi-komedi yang dekat dengan
keseharian kita orang Indonesia, tanpa menjadikannya sekadar konyol-konyolan
tanpa arti.
Nah.. di film The Tarix Jabrix ini saya
mendapatkan kesan yang sama. Lupakan keindahan sinematografi, kesempurnaan
komposisi suara, logika jalan cerita secara detail, apalagi pengembangan
karakter dan tetek bengek semacam itu yang biasa dijadikan tolok ukur kualitas
sebuah film. Saya peringatkan, jangan coba-coba membahas unsur-unsur itu dengan
rekan nonton anda setelah keluar dari bioskop. Apalagi ngebahasnya pas nonton!
Bisa-bisa anda kecewa. Walaupun salah anda sendiri, nyari hiburan buat
menghilangkan stress, tapi otak nggak dibiarin rileks dan lepas sejenak
dari ukuran-ukuran konvensional yang dicekoki ke pola pikir anda. The Tarix
Jabrix tidak dibuat untuk menang award kategori film terbaik,
sinematografi terbaik, atau apalah.
Anyway, film ini saya anggap istimewa karena relevan dengan
isu yang masih hangat, yaitu genk motor dan segala citra negatif yang menempel
di knalpotnya. Lalu, masih di dalamnya ada isu abadi dalam ranah sosial dan
psikologi masyarakat: pencarian jati diri remaja, masalah eksistensialisme, dan
benturan budaya dengan eksesnya terhadap nilai-nilai keluarga.
The
Changcuters, 5 orang anak band yang
menjadi pemeran tokoh-tokoh utama dalam film ini, tampil alami dan berhasil
mewakili kaum muda Bandung yang gelisah. Gelisah karena secara natural sebagai
remaja, eksistensi mereka butuh pengakuan dan ekspresi mereka butuh penyaluran.
Terlihat jelas betapa konstruksi-konstruksi sosial “baru” terbangun. Betapa
keinginan untuk diakui sebagai bagian dari suatu komunitas demi pengakuan yang
lebih besar di pergaulan mereka sebagai remaja menjadi sebuah kewajiban. Dorongan
untuk mendefinisikan diri dalam tata sosial mereka begitu membludak. Keinginan
untuk diterima sebagai anggota geng motor ternama terbentur dengan perbedaan
nilai-nilai mereka dalam keluarga. Nilai-nilai seperti melanggar peraturan,
melakukan kekerasan, serta keharusan berani melawan orang tua, menjadi nilai
tambah dalam komunitas tersebut. Jungkir balik nilai semacam ini kini tak
tersangkal jamak kita temukan dalam kehidupan sehari-hari kita sendiri—walau
mungkin tidak seeksplisit dalam cerita ini. Namun, tunas kepribadian yang telah
tertanam dalam diri Cacing, Dadang Modip, Coki & Ciko, serta Mulder
bergeming, tak tercerabut. Walau mereka berusaha untuk fit in, tapi
mereka tetap tak bisa melepas apa yang telah dilekatkan pada diri mereka sejak
kecil. Dan dalam banyak aspek, hal ini justru menjadi landasan jati diri
mereka. Mereka mengambil keputusan dengan mengambil inisiatif membentuk genk
motor sendiri dengan dasar nilai-nilai mereka sendiri—yang tidak mainstream
dalam komunitas tersebut.
Serentetan
hal positif diperlihatkan 5 remaja ini. Mulai dari kedisiplinan, ketaatan
terhadap keyakinan, kebajikan, dan segala norma-norma dasar yang sudah jadi
kenangan usang kita di lembar-lembar buku SD dulu. Kebiasaan-kebiasaan baik
Cacing yang natural born leader serta perlakuannya terhadap wanita yang sangat
gentle, Dadang yang semangat membantu orangtuanya di bengkel, Mulder
yang berwatak keras di atas kebenaran, dan duo Coki serta Ciko yang polos namun
setia kawan, semua diperlihatkan dengan tanpa dipaksakan. Di luar beberapa
“perilaku menyimpang” khas remaja, Cacing cs menunjukkan bahwa ekses negatif tumbukan
budaya bisa diredam dengan ketahanan diri dan kreativitas yang pada akhirnya menghasilkan
hal baru dan berbeda yang dapat mengangkat harga diri mereka. “Kesundaan”
mereka pun tak hilang walau telah berganti baju menjadi remaja genk motor ala
Amerika yang marak tahun 1950-an.
Di
sisi antagonis, pimpinan genk The Smokers, Max, juga memperlihatkan kewibawaan seorang
pemimpin serta sifat fair seorang gentleman dalam menyelesaikan
masalah-masalah dalam genknya. Kecintaannya terhadap sang adik, Calista, juga
menjadi suatu nilai tambah sendiri yang melekatkan simpati. Bahkan pada ending,
Valdin, rival Cacing dalam memenangkan hati Calista, harus merelakan adik
bosnya di The Smokers itu karena melakukan hal yang ironisnya sesuatu yang baik
dalam klimaks film ini.
Munculnya
Candil “Seurieus” dan Hanung Bramantyo dalam adegan yang tidak diduga-duga juga
menambah seru dan segar film ini. Anda yang terbiasa dengan celotehan plesetan yang
ngabodor ala Bandung akan terpingkal-pingkal menontonnya. Candaan segar serta
dialog yang dibiarkan alami plus improvisasi semakin menambah mengalirnya jalan
cerita. Walau tentu kekurangan bertebaran di sana-sini, seperti yang saya
bilang tadi, film ini memang tidak dibuat untuk menjadi sebuah karya seni yang
sempurna yang memanjakan panca indera anda. Hanya sebuah film yang menghibur
dengan cerita lucu dan memiliki pesan yang sangat bagus. Dua aspek yang bila
terbaur dengan baik akan menghasilkan karya yang cerdas.
Cobalah
jangan membayangkan pesan-pesan tersebut ditujukan kepada anda, tapi bayangkanlah
jiwa-jiwa muda yang sedang berada dalam fase transisi hidupnya: mencari tempat
mereka di masyarakat sambil mencari model-model yang mereka rasa tepat dan
cocok dengan diri mereka. Tentunya film ini akan menginspirasi mereka,
menanamkan contoh-contoh pribadi yang baik, kuat dan kreatif dalam benak
mereka, yang akan menjadi landasan perkembangan jati diri mereka, baik secara
moral dan intelektual. Tanpa merasa digurui atau dicekoki. Kemudian bayangkan
Indonesia di masa depan di bawah kendali mereka. Siapa tahu, kita bisa tidak
lagi mengeluh akan pejabat yang tidak punya malu untuk korupsi, bisa tidak lagi
berteriak akan ketidakadilan di depan mata kita, atau paling tidak, bisa tidak lagi
mengumpat akan orang yang menyerobot antrian dalam kemacetan. Well, yang
saya tahu, film-film yang sekadar mengobral muka seram para setan atau kontroversi
selangkangan beserta variannya tidak akan merubah apa-apa, kecuali ketebalan dompet
para produsernya.
———————————————————————————————-
Pemain
The Changcuters, Carissa
Puteri, Francine Roosenda,
Ariyo Bayu, Andrew, Edi
Brokoli, Iga Mawarni,
Sam Bimbo, Candil
“Seurieus”, Joe P-Project,
Inggrid Widjanarko, Tyas
Mirasih, Epi Kusnandar.
———————————————————————————————-
Sutradara
Iqbal Rais
———————————————————————————————-
Produser
Chand Parwez Servia
———————————————————————————————-
Produksi
Starvision Plus
Pak, sudah pergi?
Dulu tinggal lama sekali.
Dulu nempel di depan kelas di samping Burung Garuda lama sekali.
Sudah seperti bapak sendiri ketemu setiap hari.
Bapak pahlawan ya?
Bapak penjahat ya?
Kok banyak yang bela juga banyak yang nyela?
Ya sudah, gak usah dijawab, selamat jalan ya Pak…
Album Terbaru Ermy
Kullit “DI HATIKU”
Ketika kesedihan tidak
melulu ratapan dan kegembiraan tak selamanya sorakan. Ketika itulah anak
kandung waktu: kematangan seorang manusia, jelas tersirat. Ya, kematangan yang
gamblang, itulah yang selalu kita dapatkan ketika menikmati musik Ermy Kullit. Di
Hatiku, album teranyarnya yang diproduseri oleh Jopie Item, seperti mengingatkan
kita kembali bahwa bermusik memang seharusnya adalah persoalan hati.
Albumnya yang ke-21 ini semakin
mempertegas posisi Ermy sebagai salah satu pelantun jazz nomor wahid di negeri
ini. Balutan musik bertempo medium yang ditingkahi desahan serak khas Ermy
terasa melebur dengan begitu smooth. Diawali dengan “Kemana”, aroma
musik Ermy langsung menyeruak. Memori kita seperti diterbangkan kembali ke masa
kejayaan lagu “Kasih”. Seolah-olah takdir, suara Ermy dan musik bossas
telah menjadi denifisi tersendiri. Jangan susah-susah menahan diri untuk tidak
terhanyut dalam padu-padan itu, toh, tanpa sadar anda akan mengetuk-ngetukkan jari
juga.
Warna sound dan
progresi riff ala Lee Ritenuor pada lagu “Bila Angin Kan Mendengar”,
membawa nada-nada khas Ermy melarut dengan lirik cinta yang lugu dan klasik. Sentuhan
pop yang sedikit up-beat pada lagu “Yang Ada Di Hatiku (Kau)”, berhasil memberi
warna lain yang menyegarkan. Intrepretasi ulang Ermy pada “Masih Ada” dan “Aku
Ini Punya Siapa” milik 2D (Deddy Dhukun dan Dian Pramana Putra) patut pula anda
simak. Dalam album ini, sang suami, Utham E.A.R, turut menggubahkan dua buah
lagu untuknya, yaitu “Disini” dan “Hasrat”.
Bagi anda yang rindu akan
album dengan teknik vokal yang mumpuni ditambah lekuk-lekuk indah improvisasi
seorang biduanita jazz, album ini bisa anda kategorikan sebagai a must
have. Sebuah nilai plus lain yang akan anda dapatkan: keunikan suara Ermy
Kullit terdengar sangat jelas dan jernih akibat penggunaan teknologi Direct
Stream Digital (DSD) pada rekaman ini.
Lewat Di Hatiku,
kita seperti benar-benar diajak merasakan langsung aneka ragam perasaan dalam
hati penyanyi senior ini. Sejurus kemudian, tanpa disadari, kita juga diajarkan
betapa lantunan suara dapat menjadi sarana ungkap perasaan yang jujur dan indah;
tanpa perlu meratap, tanpa perlu bersorak. Kematangan Di Hatiku, tak luput
lagi, adalah kematangan di hati (dan musikalitas) seorang Ermy Kullit.
apa iya, ada sapi terkapar lapar di padang rumput
apa iya, ada lebah meregang nyawa di sarang madu
apa iya, ada semut bunuh diri di batang tebu
apa iya, ada orang mati kelaparan,
di negeri kolam susu
hei, hujan turun terus
:aku di persimpangan
hei, langit mengelabu
:aku di persimpangan
di depan mungkin terang, mungkin lebih gelap
di depan mungkin hangat, walau awan lebih pekat
hei, tak ada yang pasti setelah kelokan
:aku gamang di persimpangan
ah.. crossroads
welcome,
i’ve never expected you’d show up so soon
are you in a hurry?
i’m not
but,
if you insist…
hey,
you always insist!
you always get people in a hurry
well..
i better get hurry
mana luka itu
kok tak lagi menganga
dari mana suka itu
kok lagi lagi merona
it’s not always rainbows and butterflies, it’s compromize, who moves us along…..
i don’t mind spending every day, out on your corner in the pouring rain…